KBMN PGRI Pertemuan ke-13: KAIDAH PANTUN




Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, dan kita hampir mencapai separuh dari materi KBMN 28 yang telah kita ikuti. Malam ini bersyukur sekali rasanya karena sudah mencapai resume ke 13. Dengan materi "Kaidah Pantun", materi yang sangat menarik dengan moderator Bapak Dail Ma'ruf atau yang biasa disapa Pak Damar. Beliau juga merupakan alumni KBMN angkatan 20. Dan beruntung sekali beliau bisa masuk dalam TSO Om Jay.

Ada bocoran yang berhak dan bisa masuk menjadi TSO adalah mereka yang lulus dan bisa mencetak buku baik antologi maupun tunggal. Pertimbangannya ya mau Capek dan aktif menularkan motivasi menulis kepada angkatan setelahnya. 

Kemudian acara dimulai dengan doa yang dipimpin oleh Pak moderator. Dan setelah berdoa Pak Damar selaku moderator memperkenalkan narasumber yang hebat. Beliau adalah Bapak Miftahul Hadi, S.Pd.
Berikut adalah profil singkat dan CV beliau

 https://anyflip.com/wiirj/cfbd/

Setelah mengucapkan salam kepada seluruh peserta Pak Miftahul Hadi membacakan dua bait pantun.

Bunga sekuntum tumbuh di taman,
Daun salam elok mahkota,
Assalamualaikum saya ucapkan,
Sebagai salam pembuka kata

Menanam padi di musim hujan
Padi ditanam berharap panen
Mari belajar beang mas hadi kawan
Semoga semuanya berkenan

Salam takzim dan ucapan terima kasih disampaikan kepada Om Jay selaku founder KBMN.

Kalau tuan ke pulau Mempar,
Batu terbelah di gunung Daik,
Kalau tuan bertanya kabar,
Alhamdulillah kabar baik.

Banjir kanal jembatan patah,
Rimbun semak di pinggir kali,
Salam kenal saya mas Miftah,
Dari Demak berjuluk kota wali

Kalau Puan pergi ke Pasar 
Jangan lupa membeli payung
Kalau tuan ingin hatinya Bugar
Jangan lupa membuat pantun

"Bapak ibu, apa yang ada di benak bapak ibu jika mendengar kata pantun??" Tanya Pak Miftahul Hadi.

Pantun adalah salah satu budaya betawi yang kini mulai berkembang
Membuat hati Senang, pantun juga bikin senyum dan ketawa. Susunan kata yang teratur dan bernilai seni tinggi.

Digunakan pada saat acara pernikahan (palang pintu). Pantun biasanya identik dengan suku bangsa Melayu, ataupun Betawi.

Namun sebenarnya, tiap daerah memiliki pantun. Contohnya di  Tapanuli, pantun dikenal dengan istilah ende-ende (Suseno, 2006)

Pantun memiliki empat baris dan sering disampaikan saat membuka atau menutup sambutan, bahkan skrng ini di mana-mana formal/nonformal penggunaan pantun banyak dinantikan.
 Contoh :

Molo mandurung ho dipabu,
Tampul si mardulang-dulang,
Molo malungun ho diahu,
Tatap siru mondang bulan

Ingat pantun masa SMP tentang pantun jenaka
Artinya :

Jika tuan mencari paku,
Petiklah daun sidulang-dulang,
Jika tuan rindukan daku,
Pandanglah sang bulan purnama.

Di Sunda, pantun dikenal dengan istilah paparikan (Suseno, 2006)

Elok rupanya pohon belimbing 
Tumbuh dekat pohon mangga
Enak rasanya berbini sumbing
Meskipun marah ketawa juga

Contoh :

Sing getol nginum jajamu,
Ambeh jadi kuat urat,
Sing getol maengan ilmu,
Gunana Dunya akhirat.

Artinya :

Rajinlah minum jamu,
Agar kuatlah urat,
Rajinlah tuntut ilmu,
Bagi dunia akhirat.

baris ketiga = neangan = mencari

Di Jawa, pantun dikenal dengan istilah parikan (Suseno, 2006)

banyak istilah ya utk pantun di nusantara.

Beli kain si kain katun,
Dengan renda kain di tatah,
Jika ingin pandai berpantun,
Belajarlah pada mas Miftah.

kalau di sumatra dan riau disebut apa
Contoh :

Kabeh-kabeh Gelung konde,
Kang Endi kang Gelung Jawa,
Kabeh-kabeh ana kang duwe,
Kang Endi kang durung ana.

Artinya :

Semua bergelung konde,
Manakah si Gelung Jawa,
Semua sudah ada yang punya,
Siapakah yang belum punya.

Nah, karena di Indonesia banyak ragamnya
Pantun diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda  pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis (17/12/2020)

Pada hakikatnya, sebagian besar kesusastraan tradisional Indonesia membentuk pondasi dasar pertunjukan genre campuran yang kompleks, seperti "randai" dari Minangkabau wilayah Sumatra Barat, yang mencampur antara seni musik, seni tarian, seni drama, dan seni bela diri dalam perpaduan seremonial yang spektakuler.

Dari berbagai macam pantun dari tiap daerah, berikut terdapat definisi pantun.
Pantun menurut Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja, 2020) berasal dari kata “Pan” yang merujuk pada sifat sopan. Dan kata “Tun” yang merujuk pada sifat santun. Kata “Tun” dapat diartikan juga sebagai pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019). 

Banyak sekali event lomba berbalas pantun yang diadakan untuk melestarikan warisan budaya tertentu. Pantun berasal dari akar kata “TUN” yang bermakna “baris” atau “deret”. Asal kata Pantun dalam masyarakat Melayu-Minangkabau diartikan sebagai “Panutun”, oleh masyarakat Riau disebut dengan “Tunjuk Ajar” yang berkaitan dengan etika (Mu’jizah, 2019)

Nah, seringkali kita membaca dan mendengar pantun yang diawali kata jalan-jalan

Kegunaan pantun itu ternyata banyak sekali. Selain untuk komunikasi sehari-hari pada zaman dahulu. Pantun bisa juga digunakan untuk mengawali sambutan pidato. Bisa juga untuk lirik lagu, perkenalan, ataupun dakwah bisa juga disisipi pantun.
Selain itu Pantun juga melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar.

1 bait pantun terdiri atas empat baris, Wajib ini.
Lalu, satu baris itu idealnya terdiri atas empat sampai lima kata.
Kemudian, satu baris pantun terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata. Kalau yang ini disebut persajakan. Pantun yang baik, memiliki sajak a-b-a-b. Apakah boleh pantun menggunakan sajak a-a-a-a??
Boleh saja, namun akan mengurangi keindahan pantun itu sendiri.
Pantun dua baris disebut juga karmina atau pantun kilat.

Contoh :

Kabeh-kabeh Gelung konde,
Kang Endi kang Gelung Jawa,
Kabeh-kabeh ana kang duwe,
Kang Endi kang durung ana.

Lalu, apa bedanya pantun, syair, gurindam dengan karmina??
Ciri-ciri Pantun sudah dijelaskan di atas.
Syair, hampir sama seperti pantun. Terdiri atas empat baris. Memiliki sajak a-a-a-a. Baris satu sampai empat memiliki hubungan/saling berkaitan
yang membedakan pantun dan syair dari keterkaitan setiap baris.

Contoh syair:

 Inilah kisah bermula kawan
Tentang negeri elok rupawan
Menjadi rebutan haparan jajahan
Hidup mati pahlawan memperjuangkan

Engkau telah mafhum kawan
Penggenggam bambu runcing ditangan
Pemeluk tetes darah penghabisan
Syahdan, Tuhan karuniai kemerdekaan.

 Nah, kalau gurindam hanya terdiri atas dua baris. Memiliki sajak a-a. Baris pertama dan kedua saling berhubungan. Ingat Arya Dwipangga tokoh dalam Tutur tinular yang meluluhkan banyak wanita cantik itu bait-bait syair yang dibaca adalah gurindam.

Contoh gurindam :

Jika rajin salat sedekah,
Allah akan tambahkan berkah.

gurindam singkat padat --bermakna. Karmina, terdiri atas dua baris. Baris pertama dan kedua tidak ada hubungannya. Itulah sekilas perbedaan pantun, syair, gurindam dan karmina.

Jalan jalan ke pasar baru
Jangan lupa membeli tahu
Jangan ragu walau materi baru
Silahkan bertanya, jika ingin banyak tahu

Satu dua tiga empat
Lima enam tujuh delapan
Siapa belajar dengan giat
Bahagia di masa depan

Semakin bapak ibu memiliki perbendaharaan kata dengan bunyi akhir sama, maka akan semakin memudahkan dalam membuat pantun

Titip:

Kalau Seloka, apakah juga masuk kategori puisi lama?

Rima akhir
Pohon nangka dililit benalu,
Benalu runtuhkan batu bata,
Mari kita waspada selalu,
Virus corona di sekitar kita

Bena lu
Ba ta
Sela lu
Ki ta

 Ini yang disebut Rima akhir.


Hanya akhir baris yang sama bunyinya.
Rima tengah dan akhir.

Susun sejajar bungalah bakung,
Terbang menepi si burung elang,
Merdeka belajar marilah dukung,
Wujud mimpi Indonesia cemerlang.

 Rima tengah dan akhir.

Lihat kata kedua dan kata terakhir.

Baris pertama dan ketiga

Seja jar dan ba kung
Bela jar dan Du kung

 Baris kedua dan keempat

Mene Pi dan e Lang
Mim Pi dan cemer lang
cakep nih --- mas Mentri senang

Ini tingkatan yang mudah, jika dilatih terus menerus 😁

Rima awal, tengah dan akhir

Jangan dipetik si daun sirih,
Jika tidak dengan gagangnya,
Jangan diusik orang berkasih,
Jika tidak dengan sayangnya

Ini persajakan yang ketiga

Baris pertama dan ketiga

Ja ngan dipe tik si daun sirih,
Ja ngan diu Sik orang berka sih,

Baris kedua dan keempat

Ji ka ti dak dengan gagang nya,
Ju ka ti dak dengan sayang nya.

Rima lengkap

Bagai patah tak tumbuh lagi,
Rebah sudah selasih di taman,
Bagai sudah tak suluh lagi,
Patah sudah kasih idaman

Dalam menulis pantun, usahakan hindari penggunaan nama orang, dan nama merk dagang.

Demikian materi yang telah tersampaikan pada malam hari ini, semoga bermanfaat ilmunya tentang Kaidah Pantun.

Sebelum menutup materi dan membuka sesi tanya jawab narasumber meminta para peserta untuk membuat pantun berdasarkan tulisan di atas.


Jalan menuju lapangan Karebosi 
Jumpa sahabat di kota Makassar
Demi majunya bangsa dan generasi 
Mari kita sambut merdeka belajar 

Tambun selatan, 6 februari 2023
Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Ari Susanah. Saya tinggal di Kabupaten Bekasi Tambun Selatan desa Sumberjaya. Saya menikah, punya 4 orang anak. Profesi saya adalah guru. Saya telah menerbitk…

Posting Komentar

© Ari Susanah Blog. All rights reserved. Developed by Jago Desain